-->

Ikan Kerapu Napoleon si Buruk Rupa

Ikan Kerapu Napoleon si Buruk Rupa - Alhamdulillah sahabat pada malam hari saya akan memberikan update terbaru artikel dengan Judul Ikan Kerapu Napoleon si Buruk Rupa. Berbicara masalah jenis-jenis ikan kerapu mungkin kita sudah sangat biasa mendengar  tungsing, saising, taising, sunu, bone dan seterusnya karena tiap hari kita berurusan dengan mereka. Bagi yang bergerak dibidang budidaya maka kata ‘ kerapu bebek, tikus, cantik, cantang, kertang  dan seterusnya juga menjadi familiar.


Bahkan dengan harga yang kerap berubah sesuai keinginan pasar tetapi karena berulang-ulang diucapkan atau dilisankan maka harga tiap jenis ikan kerapu inipun sudah luar kepala. Yang lebih seru lagi karena dikerjakan berulang-ulang ( barang datang, disortir dan barang akan di pak untuk diekspor juga disortir ulang ) sehingga dengan melihat tampilan ikannya saja sudah bisa mengira bahwa ikan yang ini sizenya XL, yang itu L, yang sebelah sana itu M atau S atau B. Dan ketika ditimbang jarang yang meleset. Kalau orang dulu mengatakan : “Alah bisa karena biasa”. Bukan main !!











Ikan Kerapu Napoleon si Buruk Rupa

Ikan Kerapu Napoleon si Buruk Rupa


Tetapi ternyata masih ada lagi satu jenis ikan yang sama sukunya, suku serranidae yakni kerapu napoleon. Namanya banyak, di Indonesia disebut kerapu napoleon, di Natuna dimana ikan ini banyak terdapat diberi nama  mengkait, lemak ( Karimun Jawa ), ketipas ( Kepulauan Anambas ) dan licin ( Nunukan ). Kalau di Maori  disebut maori wrasse atau so moy kata orang Canton. Pilipina tidak mau ketinggalan, namanya mameng dan menjadi merer kalau sudah berada di Caroline Islands.


Nama Inggerisnya napoleon wrasse, humphead wrasse atau napoleon fish. Nama ilmiahnya adalah Cheilinus Undulatus Ruppell. So, mengapa koq jadi kerapu “Napoleon” Kata orang karena bentuk tonjolan dikepalanya persis seperti topi  Napoleon, sang Kaisar  dari  Perancis yang akhirnya diasingkan ke P. Saint Helena sampai akhir hayatnya, jadilah namanya kerapu napoleon sampai saat ini.


Nah, kalau ditilik-tilik bentuk rupa ikan yang satu ini, sangat jauh dikatakan cantik atau indah, antik, menggemaskan dan sebagainya tetapi cenderung berwajah jelek bak muka kakek-kakek tua renta yang sudah keriput. Maka jadilah nama julukannya kerapu si buruk rupa. Bibirnya yang tebal dewer seperti Mc Jagger pentolan The Rolling Stone. Tonjolan yang disebut topi napoleon menjadi lebih menyeramkan apalagi kalau sudah bergelombang seperti kembang kol. Ekornya yang kurang proporsional dibandingkan dengan besar kepala dan panjang badan sehingga terlihat buntet.


Bagaimana rasanya ? Ala Mak, sangat bertolak belakang dengan tampilannya. Kerapu napoleon si buruk rupa ini merupakan sajian favorit bagi yang mengenal semua jenis ikan, terutama orang Hongkong, negara pengonsumsi ikan yang fanatik. Singkatnya kerapu napoleon adalah makanan raja-raja.


Dagingnya benar-benar sangat lezat cita rasanya dan lembut. Bahkan makan direstoran bergengsi dengan menu kerapu napoleon ini benar-benar meningkatkan status sosial, maka tak heran bila mengundang rekan bisnis yang sangat potensial, menunya tidak akan meleset : kerapu napoleon ! Disamping event-event seperti itu menu khusus ini juga disajikan dalam rangka pesta perkawinan, ulang tahun dan sebagai permintaan tertinggi adalah hari Ibu !




  • Habitat dan Reproduksi


 

Kerapu Napoleon tersebar diperairan tropis dunia mulai dari pantai Timur Afrika ke Timur mengarah ke Laut Merah, Samudera Hindia sampai ke Samudera Pasifik. Di Indonesia beberapa sentra kerapu ini kita dapati didaerah Laut Natuna, Kepulauan Anambas, perairan Sulawesi Tenggara seperti Buton dan Wakatobi, lalu di perairan Sulawesi Utara ( Bunaken dan sekitarnya ), perairan Nusa Tenggara ( Sikka dan sekitarnya ), perairan Sulawesi Selatan ( daerah Takabonerate dan sekitarnya ) serta perairan Maluku.


Cenderung berpenampilan tenang seakan acuh dengan keadaan sekelilingnya atau saling bertukar pandang dengan para penyelam ( bukan mau mengambil ikan kerapu untuk dijual atau dimakan ) dengan kedalaman antara 2 – 60 m dengan view terumbu karang yang indah melambai-lambai diarea air laut yang bersih, nyaman, indah dan situasi yang kondusif bagi mereka, dengan sedikit kecuraman karang dilengkapi dengan gua, celah atau laguna jauh dari hiruk pikuk kesibukan lalu lintas ikan dan mahluk laut lainnya.


Itulah habitat yang menjadi favorit si Napoleon Fish. Maka apabila habitatnya diganggu, dirusak, dibom untuk mendapatkan mereka, jangan harap kalau  mereka masih akan menetap direruntuhan karang tersebut, mereka akan hijrah mencari pemukiman baru untuk mengadu nasib.


Bagaimana mereka mereproduksi diri, bagi orang awam yang tidak begitu familiar dengan ikan yang satu ini akan merasa aneh. Mengapa ? Mereka mempunyai pola reproduksi yang hermaprodit protogini. Terlahir sebagai hewan jantan tetapi menjelang dewasa akan berubah menjadi kelamin betina. Maka jangan heran didalam komunitas kecil mereka didominasi oleh ikan jantan sampai ukuran sedang tetapi saat akan mendekati usia dewasa berubah didominasi oleh populasi betina. Begitulah salah satu cara hewan di alam ini untuk mempertahankan keberlanjutan kehidupan mereka.


Sebetulnya jenis kelamin kerapu napoleon ini ada 2 macam, pertama mereka yang terlahir sebagai kelamin jantan dan tetap sebagai jantan sejati sepanjang hayatnya. Kedua, mereka yang terlahir sebagai betina dan meningkat kepada kehidupan berikutnya berubah menjadi jantan. Setelah berumur 5 – 10 tahun atau apabila telah mencapai berat badan  kurang dari

10 – 15 kg kerapu nepoleon jantan tadi berubah lagi menjadi betina. Hanya mengapa terjadi pergantian kelamin ini dan bagaimana prosesnya masih menjadi misteri yang belum dapat diketahui.




  • Ikan yang dilindungi



Cukup jelas karakteristik ikan kerapu yang satu ini. Dan kalau dinilai secara keseluruhan dia mempunyai daya tarik yang lebih dari ikan atau udang lainnya bahkan bagi pencinta ikan hias harganya sangat tinggi. Jadi ketika akan dijual sebagai ikan konsumsi, harganya tinggi: melangit, dan saat diperjual belikan sebagai ikan hias harganyapun top markotop. Risikonya Bila dibiarkan tanpa perlindungan, akan punahlah ikan ini dengan cepat oleh tangan-tangan jahil yang hanya memikirkan keuntungan sesaat.


Itu sebabnya Pemerintah melalui Kementerian-Kementerian terkait jauh sebelumnya sudah berfikir untuk melindungi hewan yang spesifik ini. Sebut saja Keputusan   Menteri Pertanian tahun 1995 tentang Larangan penangkapan ikan napoleon. Tapi pada akhirnya peraturan ini bocor halus dan tidak efektif, bahwa peraturan tinggal peraturan, manusia serakah dengan sedikit kekuasaan bisa mengeksploitasi keadaan untuk menguntungkan diri sendiri. Hasilnya bisa ditebak, banyak terumbu karang rusak dan  sang primadona pun hengkang ketempat lain.


Yang berikutnya adalah Keputusan Menteri Perdagangan tahun 1995 tentang Larangan Ekspor Ikan Napoleon Wrasse. Nasibnya juga sama, tidak efektif. Pada tahun 2004 Dunia pun sudah mengantisipasi kecenderungan kepunahan Cheilinus Undulatus ini dan melarang untuk diperdagangkan. International Union for the Conservation of Nature Resources ( IUCNR ) menetapkan hal tersebut diatas.  Dan untuk mempertajam hal itu maka pada COP 13 Conversation of International Trade in Endangered Species ( CITES ) bulan Oktober 2004 di Bangkok Thailand disepakati untuk memasukkan jenis ikan ini kedalam Appendics II CITES.


Beruntung Indonesia memiliki Menteri Kelautan dan Perikanan Ibu Susi yang sangat konsisten dan tegas dengan sikapnya dalam menegakkan setiap ketentuan yang dikeluarkan oleh Kementeriannya, maka Ibu Susi mengeluarkan Peraturan Menteri Kelautan dan Perikanan No : 37 Tahun 2013 tentang Penetapan Status Perlindungan Terbatas Ikan Napoleon.


Untuk pengawasannya dilapangan akan dibebankan kepada Pengawas Perikanan serta pemangku kepentingan lainnya yang terkait. Aparat Karantina Ikan yang ada diharuskan untuk bersinergi dengan Pengawas Perikanan dilapangan khususnya dijalur peredarannya. Kita berharap Indonesia sebagai Negara Hukum dan dengan semboyan “ Kerja, kerja, kerja” mampu menahan laju pengrusakan terumbu karang dan yang terpenting adalah mampu melestarikan ikan napoleon yang sebagian besar berada dinegara kita tercinta ini, semoga.




  • Budidaya dan kendalanya


 
Apakah budidaya kerapu napoleon itu prospektif ? Oh, ya sudah barang tentu bahkan sangat prospektif sekali. Dengan harga benih ukuran 2 – 4 inci dari nelayan pemburu benih dihargai Rp 160.000 – 300.000, maka setelah 2 - 3 tahun dengan bobot   0,8  kg sudah bisa dijual dengan harga Rp 1.000.000 – 1.500.000 per kg. Adapun pakannya tidak terlalu mahal dan mudah didapat karena bisa diambil diperairan sekitar dimana keramba berada berupa ikan ruchah dan jenis ikan lainnya. Dibanding dengan budidaya kerapu jenis lainnya maka penyediaan pakan ikan napoleon ini jauh leih murah.


Yang kemudian menjadi masalah adalah bagaimana pemburu benih yang hanya berfikir secara instan dan bagaimana mendapatkan benih ikan itu secara mudah dengan hasil yang banyak tidak perduli apakah terumbu karang mau rusak atau hancur-hancuran, yang penting aku mendapat uang banyak. Kebanyakan dari mereka masih mengedepankan pola pikir seperti itu.


Tetapi kalau dipertanyakan apakah pemasarannya mudah, ya dan bahkan kapal dari luar negeri datang langsung kelokasi untuk datang menjemput saat dipanen dan dibawa kenegaranya sehingga pembudidaya mempunyai kemudahan dan mempersingkat waktu pengiriman serta mengurang biaya pengiriman. Jadi jauh lebih mudah dan praktis jika dibandingkan kalau dikirim ke sentra-sentra pembeli di Jakarta, Bali, Surabaya atau Banjarmasin. Hanya saja bicara untuk kepentingan Negara dan dalam jangka panjang maka akan sangat merugikan kita. Itu sebabnya menimbulkan pro kontra atas peraturan yang dikeluarkan oleh Ibu Menteri.


Di Kepulauan Natuna tempat kerapu napoleon banyak ditemukan, budidaya ikan ini sudah berlangsung lama dan sudah menginvestasikan banyak dana. Dengan buyer luar seperti dari Hongkong pun sudah berjalan secara rutin baik penjadwalan kedatangan kapal maupun jadwal panen ikan. Dengan adanya moratorium penangkapan maupun perdagangan kerapu napoleon oleh Kementerian Kelautan dan Perikanan sudah barang tentu menimbulkan masalah bagi pembudidaya maupun Pemerintah Daerah setempat. Lalu bagaimana jalan keluarnya yang terbaik agar kerapu napoleon masih tetap lestari dibumi Riau Kepulauan ini ?




  • Win-win solution



Pertama, walau bagaimanapun kebijakan Negara haruslah pro rakyat. Untuk rakyatlah para pemimpin Negara ini bekerja. Antar, bimbing dan awasi agar  nelayan pembudi daya ini bisa melanjutkan apa yang mereka telah perjuangkan selama ini. Ada kesulitan ? Berikan penyuluhan sampai mereka berhasil. Lihat Negara tetangga, bagaimana petani mereka menciptakan durian Bangkok, beras ketan siam, papaya Thailand dan seterusnya. Itu semuanya berkat keikut sertaan Pemerintah mereka. Mengapa kita tidak.




Kedua, kepentingan Nasional menjadi prioritas utama. Lho, khan agak bias dengan kebijakan pro rakyat ? Namanya juga win-win solution. Buat lagi formulasinya sedemikian rupa agar budidaya jalan terus tapi habitat kerapu napoleon tidak dirusak, kepentingan Negara terselamatkan sehingga sang primadona masih betah berada dibumi Indonesia tercinta. Revolusi mental lagi jawabannya. Rombak budaya cari untung dengan mengorbankan rakyat untuk menumpuk rekening gendut. Mana pengawasan ? Mana ecInspektortat Pengawasan ditiap-tiap Kementerian ? Coba direvitalisasi, jangan diam saja.Demikialah artikel tentang Ikan Kerapu Napoleon si Buruk Rupa, semoga artikel ini bisa bermanfaat bagi kita semua amien3x. dan sampai jumpa lagi pada update artikel terbaru tentunya bersama kami di hewanternak.net

0 Response to "Ikan Kerapu Napoleon si Buruk Rupa"

Posting Komentar