-->

Mengenal Gangguan Pernafasan Pada Burung Lovebird


Mengenal Gangguan Pernafasan Pada Burung Lovebird - Jauh sebelum Natalia terserang penyakit pernafasan, Om Kicau juga sering menerima keluhan dari beberapa sobat kicaumania mengenai burungnya yang terserang gangguan kesehatan serupa. Gejala umum yang sering dilaporkan adalah nafas berbunyi seperti ngorok. Bunyi ini makin jelas terdengar pada malam hari (karena suasana lebih hening).










Mengenal Gangguan Pernafasan Pada Burung Lovebird

Mengenal Gangguan Pernafasan Pada Burung Lovebird





Hampir semua penyakit pernafasan memiliki gejala klinis berupa ngorok. Karena itu, ngorok bukanlah jenis penyakit, tetapi hanya gejala. Adapun penyakitnya sangat beragam. Bahkan burung yang ngorok pun belum tentu menderita penyakit pernafasan, melainkan “sekadar” mengalami gangguan pernafasan.Apa yang ingin disampaikan Om Kicau di sini lumayan panjang, karena memang tidak bisa dijelaskan secara sepotong-sepotong. Makanya, artijkel dipilah menjadi beberapa halaman. Anda tinggal mengklik mana info yang dibutuhkan. Tetapi, jika ada waktu senggang, disarankan untuk membaca seluruh rangkaian artikel ini agar tak muncul penyesalan di kemudian hari.

Seluruh materi dalam artikel ini berlaku untuk semua jenis burung, baik burung kicauan, merpati balap, perkutut, burung hias, dan sebagainya. Semoga informasi ini bisa membantu meningkatkan pemahaman soal penyakit dan gangguan pernafasan pada burung. Setidaknya, pengetahuan ini dapat membuat Anda berjaga-jaga dan lebih siap dalam mengantisipasi berbagai kemungkinan buruk yang terjadi.


Jenis Penyakit Pernafasan




Dalam penjelasan mengenai sistem pernafasan pada burung (hayooo… sudah dibaca belum?), sudah diuraikan bahwa udara mengandung partikel-partikel super imut (mikron), yang dapat berupa debu maupun bibit penyakit seperti virus, bakteri, spora jamur, hingga parasit.Debu pada umumnya bisa ditangkal melalui penyaringan oleh bulu–bulu getar (silia) yang terdapat di dalam rongga hidung burung. Demikian pula bibit penyakit tertentu, yang diameter 3,7 – 7,0 mikron, akan tertangkal oleh silia. Efek dari penangkalan bisa berupa bersin atau batuk.

Tetapi kalau diameter bibit penyakit kurang dari 3,7 mikron, apalagi lebih kecil dari 1,0 mikron, maka bibit penyakit ini berpeluang masuk ke dalam saluran pernafasan burung, mulai dari larynx, trakea, bronkus, bronkiolus, parabronkus, paru-paru, dan kantung udara.

Sebagian bibit penyakit yang lolos akan tertangkal pula oleh enzim proteolitik dan surfaktan yang ada di trakea, bronkus, dan bronkiolus. Tetapi ini hanya bisa terjadi pada burung yang kondisinya fit. Jika kondisi burung tidak fit, maka sangat dimungkinkan bibit penyakit dalam jumlah besar tetap bisa lolos dan masuk ke saluran pernafasan lebih dalam, seperti paru-paru dan kantung udara.

Kalau masih lolos dari penangkalan enzim proteolitik dan surfaktan, sebagian bibit penyakit itu bakal ditangkal lagi oleh beberapa antibodi dari kelompok imunoglobulin (Ig) tipe A, E, dan G. Tetapi, sekali lagi, ini juga hanya dimungkinkan ketika kondisi burung masih lumayan fit. Apabila kondisinya sudah payah, bibit penyakit pada akhirnya “memenangi peperangan” melawan sistem pertahanan di dalam tubuh burung. Akibatnya, burung pun akan terserang penyakit pernafasan.

Namun, penyakit pernafasan pada burung sangat beragam. Berdasarkan literatur kesehatan unggas, sedikitnya ada tujuh penyakit pernafasan yang sering menyerang pada unggas, termasuk burung. Sebagian penyakit hanya menyerang organ pernafasan saja, tetapi sebagian penyakit menyerang organ pernafasan dan organ tubuh lainnya, seperti pencernaan dan saraf.


Penyakit yang hanya menyerang organ pernafasan :



  1. Chronic Respiratory Diseases (CRD)

  2. Colibacillosis

  3. Korisa / Infectious coryza / Snot

  4. Infectious Laryngotracheitis (ILT)



Penyakit yang menyerang organ pernafasan dan organ tubuh lainnya:




  1. Air sac mites / tungau kantung udara

  2. Newcastle Disease (ND)

  3. Infectious Bronchitis (IB)

  4. Avian Influenza (AI)


Ngorok Belum Tentu Penyakit




Sebenarnya ngorok pada burung bukanlah penyakit, tetapi salah satu gejala klinis dari dari gangguan pernafasan. Gangguan pernafasan bisa berupa penyakit, bisa juga bukan penyakit. Pasalnya, ngorok pada burung dapat disebabkan agen penyakit (infeksius) dan non-infeksius.Agen penyakit tidak lain bibit penyakit seperti virus, bakter, jamur, dan parasit. Jika agen penyakit ini menyerang pada saluran pernafasan, maka burung akan menderita penyakit pernafasan yang terdiri atas sedikitnya tujuh jenis seperti dijelaskan sebelumnya.

Adapun agen non-infeksius antara lain udara yang berdebu, amonia (terutama dari kotoran burung), dan perubahan cuaca. Karena itu, penting juga untuk mengetahui hal ini. Jika ingin mengetahui efek dari amonia, udara berdebu, dan perubahan cuaca,


Mencegah Lebih Baik Daripada Mengobati




Bagi yang sudah membaca tujuh penyakit pernafasan pada burung, maupun gangguan pernafasan non-infeksius, terdapat beberapa kesamaan dalam mencegah munculnya gangguan pernafasan. Jadi, sangat penting untuk melakukan tindakan pencegahan. Sebab, mencegah lebih mudah (bahkan lebih baik) daripada mengobati. Tingkat keberhasilan pencegahan jauh lebih tinggi daripada keberhasilan dalam pengobatan penyakit pernafasan.Berikut ini beberapa resume mengenai tindak pencegahan yang perlu dilakukan, agar burung gacoan Anda dalam lomba, hiburan Anda di rumah, maupun burung penangkaran, bisa terhindar dari aneka gangguan pernafasan, apalagi penyakit pernafasan :



  • Jaga kebersihan kandang / sangkar. Jangan biarkan kotoran burung menumpuk, karena di dalam kotoran burung terkandung amonia. Jika kotoran dibiarkan menumpuk, kadar amonia makin tinggi dan peluang burung menghirup amonia makin besar. Pembersihan kotoran bisa dilakukan dua kali sehari: pagi dan sore. Jika tidak sempat, setidaknya setiap pagi hari.

  • Bersihkan pula wadah pakan, wadah air minum, dan tenggeran secara berkala. Jika burung dipelihara dalam kandang, semua aksesoris di dalam kandang harus dibersihkan secara berkala. Jangan biarkan debu menumpuk pada benda-benda di dalam kandang / sangkar.

  • Biasakan menyucihamakan kandang / sangkar, minimal seminggu sekali, menggunakan desinfektan khusus untuk burung, seperti FreshAves. Desinfektan ini berfungsi mematikan bibit penyakit yang mudah masuk ke kandang / sangkar, baik virus, bakteri, jamur, maupun parasit.

  • Dalam berbagai penjelasan mengenai tujuh penyakit pernafasan pada burung, infeksi bibit penyakit umumnya terjadi akibat burung dalam kondisi tidak fit dan / atau stres. Karena itu, disarankan rutin memberikan multivitamin seperti BirdVit, minimal 3 kali dalam seminggu. Burung yang kondisinya fit akan memiliki pertahanan tubuh yang lebih daripada burung yang dalam kondisi tidak fit dan / atau stres.

  • Setiap terjadi serangan penyakit pernafasan, usahakan burung dipisahkan dari burung lain (jika dipelihara dalam kandang koloni), atau dijauhkan dari sangkar burung lain yang sehat. Burung yang sakit kemudian diobati sampai sembuh, sesuai dengan petunjuk yang telah diberikan Om Kicau.

  • Ada beberapa penyakit pernafasan tertentu yang hingga kini belum ada obat yang efektif mampu menyembuhkan, terutama yang disebabkan virus. Om Kicau juga sudah memberikan arahan, setidaknya untuk meringankan penderitaan burung. Dalam beberapa kasus, burung juga bisa sembuh dari penyakitnya melalui cara yang dianjurkan Om Kicau, tetapi sebaiknya tidak dipelihara bersama burung lain yang masih sehat.

  • Jika terjadi salah satu penyakit pernafasan, maka kandang / sangkar yang digunakan burung tersebut harus disucihamakan, misalnya menggunakan FreshAves, kemudian dikosongkan minimal 1 minggu.



0 Response to "Mengenal Gangguan Pernafasan Pada Burung Lovebird"

Posting Komentar